Nuansa Remaja

Blog Remaja Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ibu. Tampilkan semua postingan

Cerpen Hari Ibu : Ibu Maafkan Aku

Cerpen Hari Ibu : Ibu Maafkan Aku
Cerpen Hari Ibu : Ibu Maafkan Aku ~ Cerpen Hari Ibu kali ini datang dari rekan facebook saya yaitu saudari Aznie. Sekali lagi Terima kasih buat saudari Aznie ^_^ , Pengen tau cerpen nya ??, langsung aja deh, cekibrooott ^_^







Cerpen Hari Ibu : Ibu Maafkan Aku


Siang itu disebuah restoran terlihat Sita yang sedang sibuk membantu ayahnya melayani pengunjung restoran yang cukup ramai dari biasanya. Sita adalah putri tunggalnya Irwan sang pemilik restoran tersebut, memang begitulah kegiatan Sita setelah pulang sekolah yaitu membantu ayahnya di restoran apalagi sekarang mulai memasuki libur panjang paska ulangan semester sehingga Sita lebih leluasa membantu ayahnya. Irwan sangat bangga memiliki putri seperti Sita, bukan hanya parasnya yang cantik tapi hatinya pun tidak kalah cantik. Sita pun merasa bangga memiliki ayah seperti Irwan karna Irwan mampu mendidik Sita dengan baik meskipun hanya seorang diri tanpa istri. Ibu Santi ibunya Sita kini entah dimana keberadaannya setelah dia pergi 10 tahun lalu ketika usia Sita 7 tahun dan kini nasibnya pun tak ada yang tau.

Terik matahari begitu menyengat siang itu. Terlihat seorang wanita paruh baya berjalan tanpa alas kali, badan yang dekil, rambut yang kusut serta acak-acakan, dan baju yang lusuh serta compang camping yang setia menempel dibadannya. Sedari tadi wanita itu pun terus berjalan menyusuri jalanan tak tentu arah dan tujuan sambil memegangi perutnya yang keroncongan dan sesekali ia menghapus setiap peluh yang menetes dari wajahnya. Sudah hampir 2 hari wanita gelandangan itu tidak memakan apapun minum pun hanya dapat meminum air keran dari mushola-mushola yang ia lewati. Ia berharap ada orang baik yang mau memberinya sedikit sedekah agar ia bisa membeli makanan. Tiba-tiba langkah wanita itu terhenti dan matanya pun tertuju pada sebuah papan yang bertuliskan "RESTO RASAKU" yang terpampang disebrang jalan. Wanita itu pun berinisiatif pergi kesana dan meminta sedikit makanan ia tau mengemis itu hina tapi ia pun tak mau jika harus mati karna kelaparan. Dengan segera wanita itu pun mulai melangkahkan kakinya menuju restoran dan tanpa ia sadari sebuah sepeda motor melaju cukup kencang dan..... "ckitt... brukk... gbrukk..." wanita itu pun tersungkur dengan luka-luka yang cukup serius dan merintih kesakitan sementara si pengemudi sepeda motor langsung kabur. Akibat kejadian itu pun jalanan menjadi ramai orang-orang yang ada disekitarnya berbondong-bondong ingin melihat dan merasa iba kepada wanita itu tapi tak ada satu pun yang mau menolong wanita itu mungkin karna wanita itu hanya seorang gelandangan sehingga ia tak pantas untuk ditolong.

Mendengar keributan diluar membuat Sita penasaran dan bergegas kedepan restoran ia melihat banyak orang yang berkerumun dijalan Sita pun mencoba menerobos kerumanan orang tersebut dan melihat seorang wanita gelandangan yang meringis kesakitan.

"ya Allah ibu kenapa? Ibu gak papakan?" tanya Sita hawatir.

"ibu tidak apa-apa nak". Jawab wanita tersebut.

"sebaiknya ibu ikut saya nanti luka-lukanya saya obati". Ucap Sita.

Wanita itu pun menurut dan Sita pun segera membawa wanita itu kedalam restoran untuk mengobati luka-lukanya. Itulah Sita selain cantik jiwa sosialnya pun tinggi meskipun belum kenal tapi dia tidak bisa melihat orang lain kesusahan dan tidak segan-segan menolongnya. Semua luka-luka wanita itu pun sudah diobati tapi wanita itu pun masih terlihat pucat mungkin karna lapar yang dirasanya sesekali ia memegangi perutnya yang terasa sakit.

"ibu kenapa? Apa ibu lapar?" tanya Sita wanita itu pun hanya mengangguk.

"baiklah ibu tunggu disini saya mau ambilkan makan dulu untuk ibu" sambung Sita dengan senyum khasnya dan berlalu pergi menuju dapur.

Tiba-tiba seorang pria mendekati wanita itu.

"Santi" ucapnya seakan tak percaya.

"mas Irwan" ucap wanita itu yang ternyata bernama Santi.

Santi pun langsung bersimpuh didepan kaki Irwan.

"maafkan saya mas, saya salah saya berdosa terhadap mas dan Sita maaf saya telah menelantarkan dan meninggalkan kalian. Saya menyesal mas". ucap Santi terisak dengan penuh penyesalan.

Irwan pun tak tinggal diam ia segera mengangkat tubuh Santi agar berdiri dan sejajar dengannya. Irwan tau apa yang dulu diperbuat Santi sangat membuat hatinya terluka terlebih untuk Sita tapi dengan kelapangan hatinya Irwan mencoba memaafkan Santi.

"Sudahlah aku sudah memaafkanmu, tapi mengapa kau sekarang jadi seperti ini?" ucap Irwan.

"Mungkin ini hukuman dari Allah mas karna dulu aku telah menyakiti hati kalian". ucap Santi kembali terisak.

Irwan pun langsung mendekap Santi kepelukannya sebuah kerinduan yang dalam dirasakan keduanya meskipun Irwan sempat membenci Santi tapi rasa benci itu berangsur-angsur hilang karna rasa cinta Irwan untuk Santi sangat besar. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka.

"prakk.." suara benda pecah Irwan dan Santi pun menoleh ke sumber suara terlihat Sita sudah berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca.

"Sita sini sayang" ucap Irwan memanggil putrinya. Dengan ragu Sita pun berjalan kearah Irwan.

"ini Sita mas, ya Allah putriku sudah besar" ucap Santi bahagia.

Santi pun memuluk Sita erat kerinduannya kini terbayar sudah untuk beberapa saat Sita masih mematung tak percaya tapi tiba-tiba Sita melepaskan pelukan Santi dengan kasar.

"tidak... kamu bukan ibuku, ibuku sudah mati" teriak Sita histeris dan tak terasa butir-butir bening kini telah membasahi pipinya.

"Sita ini ibu nak" ucap Santi meyakinkan.

"gak... gak mungkin" ucap Sita sambil berlalu pergi.

Santi pun hanya bisa menangis ia tau apa yang putrinya rasakan ia yakin putrinya belum bisa memaafkan dirinya Irwan pun mencoba menenangkan Santi.

"sudahlah mungkin Sita butuh waktu. Mendingan kita pulang dan menata kembali kehidupan kita." ucap Irwan bijak.

Sita pun berlari tanpa arah entah apa yang harus dia lakukan hatinya terlalu sakit jika harus memaafkan Santi rasa bencinya terhadap ibunya terlalu besar. Bagi Sita, dulu Santi bukan hanya sekedar ibu tapi juga malaikat yang selalu melindungi dan menjaganya tapi setelah kejadian 10 tahun lalu ketika Santi meninggalkannya bersama ayahnya hanya demi laki-laki yang lebih kaya, lebih mapan, lebih segalanya dari ayahnya terlebih ketika ia menangis meronta-ronta meminta Santi untuk tidak pergi tapi dengan angkuhnya Santi pergi dan tidak memperdulikannya sedikitpun mungkin itulah yang membuat Sita sangat membenci Santi karna rasa sakit hati yang teramat dalam. 10 tahun Sita mencoba mengubur kejadian itu dan melupakan Santi dari hidupnya dan kini Santi hadir kembali membuka luka lama yang telah ditorehkan dihatinya.

Sudah hampir 3 bulan Santi tinggal bersama dengan Irwan dan Sita tapi sikap Sita masih sama ia tidak mau menerima Santi ditengah-tengah keluarganya Irwan pun sering membujuk Sita tapi hasilnya nihil Sita masih tetap pada pendiriannya. Sita memang anak yang baik tapi untuk memaafkan Santi itu terlalu sulit tapi jauh didalam lubuk hati Sita ada kerinduan yang mendalam terhadap Santi tapi lagi-lagi ego dan kebenciannya selalu menguasai hatinya. Santi hampir putus asa dengan sikap Sita tapi ia yakin suatu saat nanti Sita akan memaafkannya.

"Sita ibu boleh bicara sesuatu" ucap Santi ketika di ruang keluarga.

Sita hanya menatapnya dengan sinis lalu ia kembali fokus dengan handphonenya.

"Sita sampai kapan kamu begini terus. Ibu tau ibu salah tolong maafkan ibu nak" ucap Santi dan untuk kesekian kalinya ia menangis.

"jadi aku harus maafin kamu? Nggak semudah itu apa yang kamu perbuat dulu terlalu sakit. Kamu tau anak 7 tahun itu masih memerlukan kasih sayang seorang ibu tapi kamu? Apa yang kamu lakukan HAH? Kamu ninggalin aku dan ayah. Kamu tau sejak kamu pergi, disekolah aku selalu diejek teman-teman aku mereka bilang ibu aku gak sayang sama aku dan ayah, ibu aku matre, sampai yang lebih sakit buat aku adalah para tetangga ngolok-ngolok ayah katanya ayah gak becus ngurus istri. Kamu tau untuk pertama kalinya aku lihat air mata ayah, dan mulai saat itu aku menjadi sangat benci pada kamu" ucap Sita dengan emosi yang meluap.

Suasana semakin panas dan Santi hanya bisa menangis dan terus meminta maaf. Sita menyadari apa yang dilakukannya salah ia tau bahwa surga ada ditelapak kaki ibu tapi apakah masih ada surga ditelapak kaki ibu jika ibunya sendiri yang tega menelantarkannya mungkin itulah yang ada dipikiran Sita. Sita pun beranjak untuk pergi tapi naas kakinya tersandung sesuatu dan.... "dukk..." kepala Sita terbentur ujung meja yang tajam dengan keras sedetik kemudian bau anyir menyeruak dan darah kental mengalir dari kepalanya dan Sita pun tak sadarkan diri. Santi pun langsung membawa Sita ke Rumah Sakit dan segera mengabari Irwan yang sedang ada di restoran.

Terlihat Sinta dan Irwan menunggu dengan harap-harap cemas tak berapa lama dokter yang menangani Sita keluar dari ruangan Sita.

"dokter bagaimana keadaan anak kami? Dia baik-baik saja kan?" tanya Irwan cemas.

"sebaiknya bapak dan ibu ikut saya karna ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan" ucap dokter.

Santi dan Irwan pun mengikuti dokter keruangannya betapa terkejutnya mereka mendengar pernyataan dokter bahwa Sita divonis buta.

"begini pak bu mungkin karna benturan yang sangat keras dikepala Sita sehingga membuat salah satu sarafnya rusak dan saraf yang rusaknya adalah saraf mata" jelas dokter.

"apakah Sita masih bisa melihat lagi?" tanya Santi.

"Bisa tapi kita harus mencari donor mata untuknya" jawab dokter.

Santi dan Irwan hanya dapat berdoa semoga jika putri sadar ia dapat tabah. Sita pun akhirnya sadar tapi ketika sadar ia langsung histeris karna semua yang dilihatnya menjadi hitam tak ada cahaya sedikitpun.

"ayah Sita gak mau buta ayah" tangis Sita meledak.

"kamu yang sabar yah nak" ucap Santi mencoba menenangkat Sita.

"kamu…. pergi kamu dari sini. Aku benci kamu semua ini gara-gara kamu" teriak Sita.Santi hanya bisa menangis lagi-lagi Sita belum memaafkannya.

Sudah hampir 1 bulan Sita pun sudah kembali kerumahnya meskipun dia belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya buta. Sampai saat ini juga belum ada informasi tentang yang mau mendonorkan matanya untuk Sita. Santi semakin tak tega melihat putrinya terus berada dalam kegelapan. Sehingga Santi berinisiatif untuk mendonorkan matanya untuk Sita tapi Irwan tidak mengijinkannya karna Irwan tau orang yang mendonorkan matanya haruslah orang yang sudah meninggal sedangkan Santi dia masih hidup dan sehat bugar Irwan pun tak ingin kehilangan Santi untuk ke 2 kalinya. Tiba- muncullah ide gila dipikiran Santi.

"Sita maafin ibu. Dan ibu mohon ijinkan ibu meluk kamu sekali ini saja" ucap Santi sambil memeluk Sita. Entah kenapa Sita tak menolak bahkan ia merasa sangat nyaman dipelukan Santi.

Setelah beberapa lama Santi pun melepaskan pelukannya.

"Sita kamu jaga diri baik-baik yah, jagain ayahmu juga. Ibu sayang sama kamu" ucap Sinta lalu mengecup kening putrinya itu setelah itu ia pergi.

Hari ini hujan turun dengan derasnya suara petir saling beradu tiada henti Sita termenung dikamar mencoba mencerna kata-kata ibunya dan entah mengapa perasaannya semakin tidak karuan.

Santi akan segera melancarkan ide gilanya ia segera menutup matanya dengan shall hitam dan sengan pasti menginjak pedal gas dengan cepat kurang dari semenit tiba-tiba... "brukk.... jderr..." suara mobil menghantam sebuah pohon dengan keras dan bersamaan dengan menggelegarnya suara petir.

Irwan sangat senang mendapat kabar dari rumah sakit bahwa ada seseorang yang baik hati mau mendonorkan matanya untuk putrinya. Irwan pun menanyakan siapa yang rela mendonorkan mata untuk putrinya tiba-tiba handphone yang digenggamnya jatuh ia tak percaya akan yang dokter ucapkan padanya tak terasa air matanya pun menitih dengan segera Irwan pun langsung melesat ke rumah sakit dan langsung menuju kamar mayat.

"Santi" ucapnya lirih. Ia melihat istrinya telah terbujur kaku. Tiba-tiba seorang polisi masuk dan ia memberikan sebuah surat.

"ini milik istri anda tuan saya menemukannya di TKP" ucapnya sambil menyerahkan surat tersebut. Irwan pun membuka surat tersebut Irwan pun membaca surat yang ditujukan Santi Untuknya.

Untuk suamiku,

Mas Irwan maafkan saya karna saya telah mengambil keputusan yang salah menurut mas tapi menurut saya ini yang terbaik saya ingin melihat Sita bahagia saya ingin Sita bisa melihat lagi jadi saya mohon tolong berikan mata saya untuk Sita. Dan tolong jangan beritahu Sita tentang ini sebelum dia menanyakan. Sampaikan juga sayang dan maaf saya untuk Sita. Terima kasih untuk semuanya mas, maafkan saya mas.

Love You.

Seiring berakhirnya surat tersebut air mata Irwan pun kembali terjun bebas.

"mas Irwan sebaiknya operasinya kita laksanakan hari ini juga" ucap seorang dokter yang menghampiri Irwan.

Sita yang mendengar kabar ini pun sangat bahagia karnasebentar lagi kehidupannya akan kembali normal.

Operasi pun berjalan lancar dan sampai saat ini Sita tidak tahu siapa yang mendonorkan mata untuk dirinya dan dia tak tau pula tengtang keadaan ibunya saat ini Irwan pun tak berani memberi tahu Sita. Setelah operasi selesai Irwan pun bergegas pulang untuk mengurus pemakaman Santi semestara Sita masih tak sadarkan diri akibat pengarup obat bius paska operasi. Terlihat diwajah Irwan gurat kehilangan yang dalam tapi disisi lain ia bahagia anaknya bisa melihat lagi dan bangga memiliki istri seperti Santi yang rela memberikan matanya untuk anaknya meskipun nyawanya sendiri yang jadi taruhannya.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Sita meskipun ada perasaan hawatir yang melanda hatinya takut-takut operasinya gagal Irwan pun dengan setia selalu ada di samping Sita untuk memberikan support kepada anak semata wayangnya itu.

"apa kamu sudah siap" ucap dokter meyakinkan.

Sita hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil. Dengan telaten dan hati-hati dokter pun membuka perban Sita."buka matamu perlahan jika sakit jangan dipaksakan" perintah dokter.

Sesuai perintah dokter dengan perlahan Sita membuka matanya. Terlihat setitik cahaya Sita pun mulai mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan namun pasti titik-titik cahaya itu terlihat dengan jelas dia pun bisa melihat dokter, suster, serta ayahnya tapi tunggu mata Sita mulai mencari sosok seseorang yang selama ini dia benci tapi sayangnya dia tidak ada tapi Sita tidak mau ambil pusing yang jelas sekarang dia merasa sangat bahagia.

"ayah aku bisa melihat lagi" ucapnya dan langsung berhambur kepelukan Irwan yang ada disampingnya.

Kini kehidupan Sita kembali normal dan mulai melaksanakan aktivitas seperti biasanya tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, kenapa sejak operasi sampai sekarang dia tak pernah melihat sosok Santi, kemana dia sebenarnya? ingin rasanya Sita menanyakan Santi kepada ayahnya tapi mulutnya terlalu sulit untuk berucap.

"kamu kenapa nak?" ucap Irwan menghampiri anaknya yang dari tadi duduk termenuh sendiri di dalam kamarnya.

"hmm... enggak kok yah, aku gak papa." jawab Sita tak bersemangat.

"apa kamu kangen sama ibumu? Kamu tau sekarang hari ibu kan?" tanya Irwan.

Sita menoleh dengan cepat mendengar pertanyaan ayahnya hampir-hampir membuat matanya loncat. "nggak kok, ayah kan tau sendiri aku benci dia gak mungkinkan aku kangen sama dia." sanggah Sita tapi memang jauh dilubuk hatinya ada rasa rindu akan kehadiran Santi.

"SITA jangan pernah bicara seperti itu nanti kau akan menyesal nak." ucap Irwan dan kini nada bicaranya mulai meninggi.

"maksud ayah apa? Emang kemana sih dia?" ucap Sita keheranan mendengar pernyataan ayahnya.

"mungkin sekarang saatnya kamu mengetahui semuanya. Dan sekarang kamu ikut ayah" ucap Irwan sambil menyeret lembut tangan dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Sekitar hampir 15 menit mobil pun berhenti di sebuah pemakaman umum Sita hanya menyerngitkan dahinya.

"ayah kenapa ayah membawaku kemari" tanyanya heran. Irwan pun tak menjawab tetapi dia menuntun tangan Sita dan sampailah disebuah gundukan tanah merah yang kini mulai ditumbuhi rerumputan. Sita terbelak melihat nisan yang tertancap hatinya kaget bukan main.

"ayah maksudnya apa ini?" tanya Sita mulai bergetar.

"tabahkan hatimu nak, ibumu sudah tenang disana." ucap Irwan.

Kakinya bergetar air matanya kini mulai terjun bebas dari pelupuk matanya dalam sekejab tubuh Sita pun ambruk didepan pusara ibunya. "ibu maafkan Sita, Sita durhaka sama ibu. Kenapa ibu tega ninggalin Sita untuk kedua kalinya." tangis Sita mulai membahana memecah keheningan.

Irwan hanya bisa menatapnya pilu. "sudahlah nak yang lalu biarlah berlalu, ayah yakin ibumu pasti memaafkanmu yang penting doakan dia dalam shalatmu agar dia mendapat tempat terindah disisi Allah kamu tau doa anak sholeh itu selalu dikabulkan oleh Allah." ucap Irwan menenangkan Sita.

"sebenarnya apa yang terjadi ayah." tanya Sita.

Irwan pun menceritakan senuanya kepada Sita seketika hatinya serasa disambar petir disiang bolong dan yang tersisa kini hanya penyesalan yang mendalam.

“ibu kenapa ibu lakukan ini demi Sita, Sita rela kok kalo Sita harus buta selamanya asal ibu ada disamping Sita” ucap Sita sesegukan.

“sudahlah nak jangan menangis ibumu gak mau liat kamu seperti ini.” Ucap Irwan dan merangkul putrinya tersebut.

Meski berat Sita pun mencoba tegat dan dia berjanji akan slalu mendoakan yang terbaik untuk ke dua orang tuanya terlebih untuk Santi yang telah tenang dialam sana.



***THE END***
READ MORE - Cerpen Hari Ibu : Ibu Maafkan Aku