Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 16
"beraninya kau!" bentakku melotot marah dan berdiri tegak. Tan ikut bangkit dengan gaya yang santai. Sial! Apa dia tidak merasa bersalah sama sekali. Di kasih makan apa dia?!
"anggap saja aku tidak sengaja!" katanya terdengar datar dan cuek. Huh! Dia benar benar ingin mati rupanya.
"jadi maksudmu kau sengaja?"
"ya!aku sengaja menjatuhkan diri diatasmu agar bisa menciummu, jelas?" aku melotot tak percaya. Ku tendang sekuat tenaga kakinya dan menyeringai puas ketika ia meringis kesakitan.
"kenapa kau tega sekali? Kau kejam!" teriaknya masih sambil meringis. Aku tertawa iblis.
"itu tidak seberapa dengan pelecehan yang sudah kau lakukan padaku!dasar tidak tau malu!" aku melangkah pergi setelah menyempatkan diri menendang kakinya sekali lagi. Tan menjerit kesakitan, tapi aku tidak perduli.
Kuturuni satu persantu tangga yang menghubungkan lantai 3 dengan atap ini. Tiba tiba, aku merasa menginjak sesuatu. Segera kuangkat kakiku dan melihat sesuatu yang berkilau di bawah sepatuku.
"cincin?" gumamku sambil memungut benda kecil berkilauan itu. Cincin yang cantik. Siapa orang sok kaya yang sudah membuang buang benda berharga ini. Aku terus menimang nimang cincin ini sepanjang jalan menuju kantin. Dan tiba tiba saja terpikir olehku untuk membaliknya. Siapa tau ada ukiran nama didalamnya. Dan langkahku terhenti ketika ku dapati ukiran nama tak asing dibalik cincin ini.
"TAN" begitu ukirannya. Apa ini milik si setan? Tapi masa cincin perempuan begini miliknya. Dan lagi dia bilang Tan bukan nama panggilannya. Jadi cincin ini apa? Aku bingung. Ah, kusimpan saja dulu. Ku kantungi cincin itu lalu melanjutkan langkahku.
##
Pulang sekolah, aku berdiri di depan kelas Tan. Aku mau langsung tanya padanya. Tapi sudah 10 menit dia belum juga keluar. Akhirnya ku longokkan kepalaku dari balik pintu dan langsung kaget. Tidak ada seorangpun dikelas ini! Aku yakin tidak melihatnya keluar tadi, apa dia keluar lewat jendela?
"sedang apa di sini?" aku terlonjak saat mendapatkan sebuah tepukan di bahu. Segera ku tolehkan kepalaku kebelakang. Fiuh.. Ternyata guru seni yang mengajar di kelasku tadi. Pak Roni. Dia masih muda dan tampan. Heheh..
"aa..tidak pak, hanya mencari teman" jawabku santai. Pak Roni mengangguk mengerti.
"oh ya..bisa tidak bapak minta tolong padamu?"
"minta tolong apa?"
"bapak buru buru, ada urusan.. Mau tidak bantu bapak menyimpan buku ini diruang musik?"
"hm.." aku berpikir sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum. Pak Roni menyodorkan buku paket di tangannya padaku lalu pergi setelah menggumamkan terimakasih.
Kini aku harus jalan ke ujung lantai 2 ini. Karena di sanalah letak ruang musik. Segera kubuka pintu yang tidak pernah di kunci ini lalu berjalan masuk. Ruang ini cukup luas dan disudutnya ada rak buku. Di situlah aku akan meletakkan buku ini.
Tiba tiba langkahku memelan dan berhenti. Aku tertegun, ada seseorang yang terbaring di tengah ruangan. Kurasa aku tau siapa itu, tapi aku mendekat juga untuk memperjelas penglihatanku.
"Tan?" gumamku seraya memperhatikan lekat lekat wajah orang yang terbaring dg mata terpejam didekat kakiku ini. Memang benar Tan. Sepertinya tidur? Waa.. Aneh sekali, tidur di tempat seperti ini. Pantas tidak ada dikelas, pasti ia bolos dan tidur disini.
Degh! Jantungku tiba tiba saja berdentum keras. Kenapa ini? Kenapa rasanya deg degan sekali setiap melihat tampang polosnya saat tidur? Waa.. Dia benar benar tampan! Manis! Imut! Aku duduk di samping tubuhnya dan memperhatikan wajahnya lebih dekat. Oh Tuhan.. Dia mempesona sekali. Plak! Aku langsung menepuk pipiku, menyadarkan diri dari pesonanya. Ingat Karin, tujuanmu kesini untuk menyimpan titipan pak Roni. Aku bersiap bangkit, baru sampai menjongkok, tanganku di tarik sampai aku tersentak ke depan dan wajahku hampir bertabrakan dg wajah Tan. Ia membuka matanya pelan menahanku dalam posisi seperti ini.
"mau kemana?"
"huh?"
"tetap disini! Kau datang tanpa di undang jadi kau tidak boleh pergi tanpa izin!" Tan mendorong keningku dengan telunjuknya sampai wajahku menjauh darinya. Barulah ia bangkit duduk, sialnya tanganku masih di tahannya. Mau apa sih dia?
"maksudmu apa?aku datang kesini bukan karna mu! Aku mau menyimpan titipan pak Roni, lagi pula aku tidak tau ada kau disini!" ketusku berusaha membebpaskan tanganku namun sia sia.
"baiklah.. Anggaplah ucapanmu itu benar, tapi mau apa kau duduk di situ?"
"uh?itu..itu.." sial! Aku tak tau mau jawab apa. Ia melirikku nakal. Dasar picik! Apa dia cuma pura pura tidur tadi?
"kau pura pura tidur ya?"
"tidak!aku benar benar tidur, tapi aku merasa jika seseorang berada di dekatku!"
"haah, sudahlah!aku mau pergi!lepaskan aku!"
"akan ku lepaskan setelah kau menciumku!"
"huh?"mataku membulat kaget, dia malah pasang tampang tanpa dosa.
"disini saja.." ucapnya sambil menunjuk pipi kirinya yang chubby.
"otak mesum!" teriakku seketika menyerangnya dengan buku di tanganku. Ia mengaduh, tanganku dilepasnya refleks.
READ MORE - Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 16
"anggap saja aku tidak sengaja!" katanya terdengar datar dan cuek. Huh! Dia benar benar ingin mati rupanya.
"jadi maksudmu kau sengaja?"
"ya!aku sengaja menjatuhkan diri diatasmu agar bisa menciummu, jelas?" aku melotot tak percaya. Ku tendang sekuat tenaga kakinya dan menyeringai puas ketika ia meringis kesakitan.
"kenapa kau tega sekali? Kau kejam!" teriaknya masih sambil meringis. Aku tertawa iblis.
"itu tidak seberapa dengan pelecehan yang sudah kau lakukan padaku!dasar tidak tau malu!" aku melangkah pergi setelah menyempatkan diri menendang kakinya sekali lagi. Tan menjerit kesakitan, tapi aku tidak perduli.
Kuturuni satu persantu tangga yang menghubungkan lantai 3 dengan atap ini. Tiba tiba, aku merasa menginjak sesuatu. Segera kuangkat kakiku dan melihat sesuatu yang berkilau di bawah sepatuku.
"cincin?" gumamku sambil memungut benda kecil berkilauan itu. Cincin yang cantik. Siapa orang sok kaya yang sudah membuang buang benda berharga ini. Aku terus menimang nimang cincin ini sepanjang jalan menuju kantin. Dan tiba tiba saja terpikir olehku untuk membaliknya. Siapa tau ada ukiran nama didalamnya. Dan langkahku terhenti ketika ku dapati ukiran nama tak asing dibalik cincin ini.
"TAN" begitu ukirannya. Apa ini milik si setan? Tapi masa cincin perempuan begini miliknya. Dan lagi dia bilang Tan bukan nama panggilannya. Jadi cincin ini apa? Aku bingung. Ah, kusimpan saja dulu. Ku kantungi cincin itu lalu melanjutkan langkahku.
##
Pulang sekolah, aku berdiri di depan kelas Tan. Aku mau langsung tanya padanya. Tapi sudah 10 menit dia belum juga keluar. Akhirnya ku longokkan kepalaku dari balik pintu dan langsung kaget. Tidak ada seorangpun dikelas ini! Aku yakin tidak melihatnya keluar tadi, apa dia keluar lewat jendela?
"sedang apa di sini?" aku terlonjak saat mendapatkan sebuah tepukan di bahu. Segera ku tolehkan kepalaku kebelakang. Fiuh.. Ternyata guru seni yang mengajar di kelasku tadi. Pak Roni. Dia masih muda dan tampan. Heheh..
"aa..tidak pak, hanya mencari teman" jawabku santai. Pak Roni mengangguk mengerti.
"oh ya..bisa tidak bapak minta tolong padamu?"
"minta tolong apa?"
"bapak buru buru, ada urusan.. Mau tidak bantu bapak menyimpan buku ini diruang musik?"
"hm.." aku berpikir sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum. Pak Roni menyodorkan buku paket di tangannya padaku lalu pergi setelah menggumamkan terimakasih.
Kini aku harus jalan ke ujung lantai 2 ini. Karena di sanalah letak ruang musik. Segera kubuka pintu yang tidak pernah di kunci ini lalu berjalan masuk. Ruang ini cukup luas dan disudutnya ada rak buku. Di situlah aku akan meletakkan buku ini.
Tiba tiba langkahku memelan dan berhenti. Aku tertegun, ada seseorang yang terbaring di tengah ruangan. Kurasa aku tau siapa itu, tapi aku mendekat juga untuk memperjelas penglihatanku.
"Tan?" gumamku seraya memperhatikan lekat lekat wajah orang yang terbaring dg mata terpejam didekat kakiku ini. Memang benar Tan. Sepertinya tidur? Waa.. Aneh sekali, tidur di tempat seperti ini. Pantas tidak ada dikelas, pasti ia bolos dan tidur disini.
Degh! Jantungku tiba tiba saja berdentum keras. Kenapa ini? Kenapa rasanya deg degan sekali setiap melihat tampang polosnya saat tidur? Waa.. Dia benar benar tampan! Manis! Imut! Aku duduk di samping tubuhnya dan memperhatikan wajahnya lebih dekat. Oh Tuhan.. Dia mempesona sekali. Plak! Aku langsung menepuk pipiku, menyadarkan diri dari pesonanya. Ingat Karin, tujuanmu kesini untuk menyimpan titipan pak Roni. Aku bersiap bangkit, baru sampai menjongkok, tanganku di tarik sampai aku tersentak ke depan dan wajahku hampir bertabrakan dg wajah Tan. Ia membuka matanya pelan menahanku dalam posisi seperti ini.
"mau kemana?"
"huh?"
"tetap disini! Kau datang tanpa di undang jadi kau tidak boleh pergi tanpa izin!" Tan mendorong keningku dengan telunjuknya sampai wajahku menjauh darinya. Barulah ia bangkit duduk, sialnya tanganku masih di tahannya. Mau apa sih dia?
"maksudmu apa?aku datang kesini bukan karna mu! Aku mau menyimpan titipan pak Roni, lagi pula aku tidak tau ada kau disini!" ketusku berusaha membebpaskan tanganku namun sia sia.
"baiklah.. Anggaplah ucapanmu itu benar, tapi mau apa kau duduk di situ?"
"uh?itu..itu.." sial! Aku tak tau mau jawab apa. Ia melirikku nakal. Dasar picik! Apa dia cuma pura pura tidur tadi?
"kau pura pura tidur ya?"
"tidak!aku benar benar tidur, tapi aku merasa jika seseorang berada di dekatku!"
"haah, sudahlah!aku mau pergi!lepaskan aku!"
"akan ku lepaskan setelah kau menciumku!"
"huh?"mataku membulat kaget, dia malah pasang tampang tanpa dosa.
"disini saja.." ucapnya sambil menunjuk pipi kirinya yang chubby.
"otak mesum!" teriakku seketika menyerangnya dengan buku di tanganku. Ia mengaduh, tanganku dilepasnya refleks.
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 15
Aku segera berlari ke ruang kesehatan dan secepatnya naik ke atap setelah mengambil kotak p3k secara sembunyi sembunyi agar tidak ketahuan petugas, aku takut di introgasi mau ku apakan kotak p3k ini. Ah, bisa panjang urusannya.
Nafasku terengah engah begitu memijakkan kaki dilantai atap. Sambil mengatur nafas, kucari Tan di segala sisi atap ini dan ku temukan ia sedang duduk di bangku sambil mual mual. Aku segera menghampirinya.
"kemana saja kau? Mau aku mati di sini baru kau datang? Mana airnya?cepat cuci tanganku, aku sudah tidak tahan! Oya apa kau punya minyak wangi? Bau anyir ini sangat membuatku mual"
"sepertinya aku lupa bawa air"
"apa?cepat ambilkan!!" Tan berteriak sampai aku harus tutup kuping. Dahsyat sekali suaranya.
"tunggu sebentar!" aku langsung lari menuju kantin. Bayangkan saja, harus bolak balik turun tangga sambil lari lari. Tapi bagaimanapun aku yang membuatnya begitu jadi aku juga yang harus tanggung jawab.
Dikantin aku membeli sebotol air mineral lalu kembali ke atas. Seperti yang ku duga, ia mengoceh lagi.
"astaga! Kau ambil air dimana? Disungai? Sekalian saja ambil di laut!" ocehnya sebal sambil merebut air itu dari tanganku lalu di basuhkan ke tangannya. Selanjutnya ia menatapku keki.
"kenapa masih pasang tampang bodoh itu di depanku? Kau tidak mau mengobatiku?"
"aku hanya heran kenapa ada laki laki yang lebih cerewet dari nenekku! Kemarikan kepalamu"
"kau bodoh!memangnya kepalaku bisa dicopot! Sini duduk!" Tan menarikku duduk disampingnya lalu mengarahkan kepala belakangnya di depanku. Aku mendesah lalu lekas mengobatinya. Tanpa sepengetahuannya ku gunting sedikit rambutnya agar bisa menempalkan perban. Ah, kalau di tau, ku jamin aku di semprot liurnya.
"selesai!"kataku usai melingkarkan perban di kepalanya. Tan berbalik menghadapku sambil menyentuh nyentuh perbannya.
"kenapa rasanya ada yang aneh?" tanyanya bingung.
"apanya yang aneh?tidak ada!"
"apa aku terlihat jelek? Apa perban ini mengganggu penampilanku? Menurutmu bagaimana? Aku tetap tampan kan? Yah.. Meskipun pada dasarnya tampan tetaplah tampan, tapi aku takut ini kelihat aneh.." aku melongo mendengar kalimatnya barusan. Astaga dia pd sekali, aku saja malu mendengarnya.
Ku akui dia memang sangat tampan, tapi alangkah lebih baiknya jika dia tidak berlebihan memuji dirinya.
"Waa.. Ternyata perban ini membuatku makin keren.." katanya sambil mengaca dilayar ponselnya. Aku mendengus. Sekarang apa lagi? Dia memotret dirinya sendiri sambil bergaya sok imut dg senyuman yg manis? Tuhan.. Masih adakah orang ternarsis di dunia ini selain dia?
"aku bisa gila lama lama berada disini, nikmati hidupmu.. Aku pergi dulu sepertinya sudah waktunya istirahat!" aku melangkah pergi sambil melambaikan tangan padanya tapi ia menarikku kuat sampai aku terduduk di pangkuannya. Lalu Jpret! Aku mendongak tak percaya.
"a-apa yang kau lakukan?"
"kau berat!" bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mendorongku menyingkir dari pangkuannya. Aku menatapnya marah sambil berkacak pinggang.
"kenapa kau lakukan itu?cepat hapus fotonya.."
"wah,kau jelek sekali!lain kali jika berfoto dg ku bergayalah yang manis agar tampak serasi!"
"hapus!" bentakku berusaha merebut ponselnya tapi dia dengan lihai mengelakkannya.
"heh, kau tidak punya malu ya? Mau merebut ponselku? Enak saja!"
"kubilang hapus foto itu!"
"kenapa harus ku hapus? Ini kan ponselku, hakku mau menghapus atau tidak"
"tapi ada wajahku disitu!"
"ada wajahku juga!sudahlah biarkan foto ini ku jadikan koleksi, pergilah sana!"
"apa kau bilang koleksi? Tidak! Hapus sekarang juga!" aku kembali berusaha merebut ponselnya, Tan mengelak lagi ia berdiri di atas bangku dan menjulurkan lidahnya padaku.
"jahat kau setan!" kataku menarik narik bajunya. Tan menjerit dan hilang keseimbangan lalu terjatuh menimpaku, dan bibirnya mencium pipiku entah sengaja atau tidak. Aku menjerit lalu mendorongnya menjauh.
READ MORE - Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 15
Nafasku terengah engah begitu memijakkan kaki dilantai atap. Sambil mengatur nafas, kucari Tan di segala sisi atap ini dan ku temukan ia sedang duduk di bangku sambil mual mual. Aku segera menghampirinya.
"kemana saja kau? Mau aku mati di sini baru kau datang? Mana airnya?cepat cuci tanganku, aku sudah tidak tahan! Oya apa kau punya minyak wangi? Bau anyir ini sangat membuatku mual"
"sepertinya aku lupa bawa air"
"apa?cepat ambilkan!!" Tan berteriak sampai aku harus tutup kuping. Dahsyat sekali suaranya.
"tunggu sebentar!" aku langsung lari menuju kantin. Bayangkan saja, harus bolak balik turun tangga sambil lari lari. Tapi bagaimanapun aku yang membuatnya begitu jadi aku juga yang harus tanggung jawab.
Dikantin aku membeli sebotol air mineral lalu kembali ke atas. Seperti yang ku duga, ia mengoceh lagi.
"astaga! Kau ambil air dimana? Disungai? Sekalian saja ambil di laut!" ocehnya sebal sambil merebut air itu dari tanganku lalu di basuhkan ke tangannya. Selanjutnya ia menatapku keki.
"kenapa masih pasang tampang bodoh itu di depanku? Kau tidak mau mengobatiku?"
"aku hanya heran kenapa ada laki laki yang lebih cerewet dari nenekku! Kemarikan kepalamu"
"kau bodoh!memangnya kepalaku bisa dicopot! Sini duduk!" Tan menarikku duduk disampingnya lalu mengarahkan kepala belakangnya di depanku. Aku mendesah lalu lekas mengobatinya. Tanpa sepengetahuannya ku gunting sedikit rambutnya agar bisa menempalkan perban. Ah, kalau di tau, ku jamin aku di semprot liurnya.
"selesai!"kataku usai melingkarkan perban di kepalanya. Tan berbalik menghadapku sambil menyentuh nyentuh perbannya.
"kenapa rasanya ada yang aneh?" tanyanya bingung.
"apanya yang aneh?tidak ada!"
"apa aku terlihat jelek? Apa perban ini mengganggu penampilanku? Menurutmu bagaimana? Aku tetap tampan kan? Yah.. Meskipun pada dasarnya tampan tetaplah tampan, tapi aku takut ini kelihat aneh.." aku melongo mendengar kalimatnya barusan. Astaga dia pd sekali, aku saja malu mendengarnya.
Ku akui dia memang sangat tampan, tapi alangkah lebih baiknya jika dia tidak berlebihan memuji dirinya.
"Waa.. Ternyata perban ini membuatku makin keren.." katanya sambil mengaca dilayar ponselnya. Aku mendengus. Sekarang apa lagi? Dia memotret dirinya sendiri sambil bergaya sok imut dg senyuman yg manis? Tuhan.. Masih adakah orang ternarsis di dunia ini selain dia?
"aku bisa gila lama lama berada disini, nikmati hidupmu.. Aku pergi dulu sepertinya sudah waktunya istirahat!" aku melangkah pergi sambil melambaikan tangan padanya tapi ia menarikku kuat sampai aku terduduk di pangkuannya. Lalu Jpret! Aku mendongak tak percaya.
"a-apa yang kau lakukan?"
"kau berat!" bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mendorongku menyingkir dari pangkuannya. Aku menatapnya marah sambil berkacak pinggang.
"kenapa kau lakukan itu?cepat hapus fotonya.."
"wah,kau jelek sekali!lain kali jika berfoto dg ku bergayalah yang manis agar tampak serasi!"
"hapus!" bentakku berusaha merebut ponselnya tapi dia dengan lihai mengelakkannya.
"heh, kau tidak punya malu ya? Mau merebut ponselku? Enak saja!"
"kubilang hapus foto itu!"
"kenapa harus ku hapus? Ini kan ponselku, hakku mau menghapus atau tidak"
"tapi ada wajahku disitu!"
"ada wajahku juga!sudahlah biarkan foto ini ku jadikan koleksi, pergilah sana!"
"apa kau bilang koleksi? Tidak! Hapus sekarang juga!" aku kembali berusaha merebut ponselnya, Tan mengelak lagi ia berdiri di atas bangku dan menjulurkan lidahnya padaku.
"jahat kau setan!" kataku menarik narik bajunya. Tan menjerit dan hilang keseimbangan lalu terjatuh menimpaku, dan bibirnya mencium pipiku entah sengaja atau tidak. Aku menjerit lalu mendorongnya menjauh.
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 14
Di kelas aku sungguh bosan. Guru bahasa sedang mengoceh di depan di tambah Hanna yang mencerhtakan tentang pangeran impiannya dengan sangat berapi api. Aku dapat melihat matanya berkilat kilat.
"kau tau? Dia itu adalah makhluk paling keren dan juga tampan! Ditambah imut dan juga manis, oh ya ampun! Dia sangat sempurna! Dan kau tau apa lagi? Otot otot perutnya sungguh sexy! Semua wanita jatuh hati padanya! Ya tuhan.. Andai aku bisa mendapatkannya, pasti aku akan melayang terbang di.."
TUK! Hanna meringis sambil mengusap usap kepalanya sedangkan aku buru buru menekuni bukuku. Bagaimana tidak Hanna baru saja mendapat lemparan tutup spidol yg mendarat tepat dh kepalanya oleh guru bahasa dan dengan garangnya guru itu menatap kami.
"perhatikan bukumu!" katanya tegas. Hanna mengangguk penuh ketidak relaan. Aku ingin tertawa tapi dalam hati saja. Hahaha..!!
"pak!bolehkah aku ketoilet sebentar?" aku mengangkat sebelah tanganku sambil minta izin keluar. Senangnya aku di izinkan. Segera saja aku lari keluar sambil memegangi perut biar mereka percaya kalau aku mau pub!
Selepas dari kelas, aku berjalan santai. 20 menit lagi bel istirahat. Di kelas juga sudah di absen, jadi tidak masalah kalau aku tidak kembali kekelas. Hahai! Bolos kecil kecilan yang membuatku bahagia. Aku mau kemana ya? Ah, kekantin saja!
Aku menuruni satu persatu undakan tangga sambil melamun. Melamunkan apa juga aku tidak tau. BRUK! Aku terkecoh karena menabrak seseorang yang mau naik. Aku masih bisa menjaga keseimbangan sementara orang yang ku tabrak kehilangan keseimbangan dan refleks menarik tanganku. Alhasil kami jatuh berguling dengan posisi gantian menimpa. Aku menutup mataku erat erat. Apa aku akan mati sekarang? Tidak!! Aku belum bertemu jodohku!!
Jduk! Bunyi benturan itu terdengar seiring terhentinya kami berguling. Aku masih memejamkan mata, ku rasa bukan aku yg terbentur karena aku dalam posisi menimpa sekarang.
"me-menyingkir dariku bodoh!" aku tersentak, mataku melotot tak percaya saat ku temukan wajah imut ini di depan wajahku.
"kau tuli hah?menyingkir!kau berat!" suara ringisan Tan membuatku bangkit dan duduk di anak tangga terakhir. Aku menunduk malu.
Tan juga bangkit duduk tapi masih di tempat kami jatuh tadi.
"maafkan aku.."kataku merasa bersalah.
"apa ini? Darah?" aku tersentak dan menoleh cepat kearah tan yang bersuara tadi. Ia menatap tangannya yang terkena cairan merah dan sebelah tangannya lagi membekap mulutnya sendiri. Terdengar bunyi cekukan dari nya.
"darah apa itu?"tanyaku konyol.
"darahku bodoh! Kau kira darah apa? Darah menstruasi?"
"ih,kau ini jorok sekali! Apa? Darah kepalamu?" aku terlonjak lalu segera pindah posisi di belakangnya.
Ku sentuh rambutnya yang sedikit basah. Ah.. Benar benar darah. Aku menjerit takut.
"bagaimana ini? Kau pendarahan! Harus segera kerumah sakit! Kau butuh tranfusi darah! Ayo!" aku berdiri dan memegang tangannya tapi tan melepasnya kasar.
"aku tidak butuh transfusi darah! Dasar kampungan! Ini hanya luka kecil! Obati aku! Ku tunggu kau di atap oke? 5 menit! Bawakan air juga!" tan berdiri lalu berjalan terhuyung huyung menaiki tangga. Aku kelabakan takut dia jatuh tapi yang ada dia malah memplototiku.
READ MORE - Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 14
"kau tau? Dia itu adalah makhluk paling keren dan juga tampan! Ditambah imut dan juga manis, oh ya ampun! Dia sangat sempurna! Dan kau tau apa lagi? Otot otot perutnya sungguh sexy! Semua wanita jatuh hati padanya! Ya tuhan.. Andai aku bisa mendapatkannya, pasti aku akan melayang terbang di.."
TUK! Hanna meringis sambil mengusap usap kepalanya sedangkan aku buru buru menekuni bukuku. Bagaimana tidak Hanna baru saja mendapat lemparan tutup spidol yg mendarat tepat dh kepalanya oleh guru bahasa dan dengan garangnya guru itu menatap kami.
"perhatikan bukumu!" katanya tegas. Hanna mengangguk penuh ketidak relaan. Aku ingin tertawa tapi dalam hati saja. Hahaha..!!
"pak!bolehkah aku ketoilet sebentar?" aku mengangkat sebelah tanganku sambil minta izin keluar. Senangnya aku di izinkan. Segera saja aku lari keluar sambil memegangi perut biar mereka percaya kalau aku mau pub!
Selepas dari kelas, aku berjalan santai. 20 menit lagi bel istirahat. Di kelas juga sudah di absen, jadi tidak masalah kalau aku tidak kembali kekelas. Hahai! Bolos kecil kecilan yang membuatku bahagia. Aku mau kemana ya? Ah, kekantin saja!
Aku menuruni satu persatu undakan tangga sambil melamun. Melamunkan apa juga aku tidak tau. BRUK! Aku terkecoh karena menabrak seseorang yang mau naik. Aku masih bisa menjaga keseimbangan sementara orang yang ku tabrak kehilangan keseimbangan dan refleks menarik tanganku. Alhasil kami jatuh berguling dengan posisi gantian menimpa. Aku menutup mataku erat erat. Apa aku akan mati sekarang? Tidak!! Aku belum bertemu jodohku!!
Jduk! Bunyi benturan itu terdengar seiring terhentinya kami berguling. Aku masih memejamkan mata, ku rasa bukan aku yg terbentur karena aku dalam posisi menimpa sekarang.
"me-menyingkir dariku bodoh!" aku tersentak, mataku melotot tak percaya saat ku temukan wajah imut ini di depan wajahku.
"kau tuli hah?menyingkir!kau berat!" suara ringisan Tan membuatku bangkit dan duduk di anak tangga terakhir. Aku menunduk malu.
Tan juga bangkit duduk tapi masih di tempat kami jatuh tadi.
"maafkan aku.."kataku merasa bersalah.
"apa ini? Darah?" aku tersentak dan menoleh cepat kearah tan yang bersuara tadi. Ia menatap tangannya yang terkena cairan merah dan sebelah tangannya lagi membekap mulutnya sendiri. Terdengar bunyi cekukan dari nya.
"darah apa itu?"tanyaku konyol.
"darahku bodoh! Kau kira darah apa? Darah menstruasi?"
"ih,kau ini jorok sekali! Apa? Darah kepalamu?" aku terlonjak lalu segera pindah posisi di belakangnya.
Ku sentuh rambutnya yang sedikit basah. Ah.. Benar benar darah. Aku menjerit takut.
"bagaimana ini? Kau pendarahan! Harus segera kerumah sakit! Kau butuh tranfusi darah! Ayo!" aku berdiri dan memegang tangannya tapi tan melepasnya kasar.
"aku tidak butuh transfusi darah! Dasar kampungan! Ini hanya luka kecil! Obati aku! Ku tunggu kau di atap oke? 5 menit! Bawakan air juga!" tan berdiri lalu berjalan terhuyung huyung menaiki tangga. Aku kelabakan takut dia jatuh tapi yang ada dia malah memplototiku.
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 13
Senyumnya lenyap berubah menjadi manyun. Semakin dekat jarak antara kami. Aku masih saja terpaku di tempatku. Ia semakin mendekat dan berhenti tepat di hadapanku. Deg deg deg! Kusentuh dadaku. Ada apa ini? Kok rasanya deg degan sekali?
"hallo gadis cengeng! Apa kabar?" ia tersenyum sinis menyapaku. Haah.. Apa apaan dia? Aura setannya keluar! Beda dengan saat berjalan tadi. Apa hanya padaku dia bersikap seperti ini? Ah, memang dasar setan! Aku mendelik kearahnya dg tatapan super jengkel.
"siapa kau?" tanyaku datar. Ia kelihatan kaget atau lebih tepatnya pura pura kaget.
"oh my god! Kau pikun sekali! Apa wajah tampanku ini susah sekali di ingat? Memang sih tampang setampan ini langka tapi masa iya kau lupa?"
"ya ampun! Kadar pd mu itu bisa di turunkan sedikit tidak? Itu membuatku mual"
"hey, semua orang tau kalau aku tampan"
"what ever! Bisakah kau minggir sekarang? Aku mau kekelas"
kataku masih dg suara datar dan tampang jengkel. Biar dia tau betapa jengkelnya aku pada dia.
"kau kan mengajakku ngobrol tadi, bagaimana bisa kau mau pergi begitu saja?"
"huh? Kapan aku mengajakmu ngobrol? Kau yg menyapaku tadi, dg sapaan yg amat sangat memalukan! Lihat siapa sekarang yg pikun! Minggir kau!"
"memang siapa yg mau terus terusan bicara disini dg mu? Ke Ge-eran sekali kau! Sana pergi, aku bosan melihat wajah kusutmu itu! Cepatlah kau setrika wajahmu ya! Wajah kusut tidak baik untuk kelangsungan hidup!"
apa? Ini penghinaan namanya. Ia menepuk bahuku beberapa kali lalu berjalan melewatiku. Aku mendesah menahan geram. Tuhan.. Jika semua makhluk didunia ini seperti dia, aku bisa gila! Kembali ku lanjutkan perjalananku menuju kelas dg langkah berat aku menaiki tangga, jauh sekali rasanya. Seandainya saja ada seseorang yg bisa mendampingiku, membantuku melewati rintangan hidup ini dan senantiasa menghapus air mataku dan memelukku erat. Alangkah bahagianya aku.. Ah, hanya mimpi! Pada kenyataannya aku justru di pertemukan dengan adik kelas menyebalkan tak tau diri itu yg di beri nama oleh ibunya Daniel Tan! Aku benci dia
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 11
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 11 ~ Aku pamit sambil bangkit dari dudukku. Tan ikut berdiri sambil membuang stick es krim dan mengelap bibirnya.
"aku antar!" katanya.
"tidak usah!"
"hei, aku tidak bisa membiarkan wanita pulang sendirian"
"huh?um..tidak usah!kalau kau bawa kendaraan baru aku mau kau antar!" ia nyengir kuda mendengar ucapanku.
"lihat!siapa yg materialistik sekarang? Apa salahnya jalan kaki? Ayo!" ia langsung menarik lenganku dan membawaku turun. Aku hanya menurut. Ah, dia menyebalkan sekali!
Kami berjalan sepanjang rute menuju rumahku. Ternyata rumahku lumayan jauh juga jika ditempuh jalan kaki. Tapi kenapa tadi pagi tidak terasa jauh ya? Mungkin karena terlalu banyak yang kupikirkan.
"rumahmu dimana sih? Kenapa jauh sekali? Kakiku sampai pegal begini!" Tan bersungut sambil sesekali membungkuk untuk memijit betisnya.
"siapa suruh kau mengantarku?"
"kenapa tidak bilang kalau rumahmu di pelosok begini? Kalau tau begini kita kan bisa naik bus tadi! Sekarang aku harur putar balik dan menempuh 1 km. Menuju halte! Menyebalkan!"
"ampun cerewetnyaa.. Pulang saja sana! Rumahku masih 1 km lagi!"
"enak saja menyuruhku pulang! Aku sudah jauh jauh kesini setidaknya harus melihat rumahmu dulu!"
"ya sudah kalau begitu jangan cerewet!"
"aku tidak cerewet!"
"kalau tidak kenapa kau suka sekali mengoceh? Itu kan cerewet namanya!"
"kau juga cerewet dan cengeng!"
"huh!aku makin lelah berdebat dg mu!"
"aku juga!"
hari makin sore, aku sampai dirumah sekitar pukul 4. Kulihat dari luar gerbang, rumah sepi.
"aku masuk dulu, kau pulanglah"
"huh? Kau tidak suruh aku mampir?"
"kau kan bukan temanku untuk apa kusuruh kau mampir?"
"bukan temanmu? Benar juga! Ya sudah kalau begitu sekarang aku temanmu!"
"huh?apa apaan kau ini?"
"kita berteman oke?" ia mengulurkan tangannya. Aku sempat menatap wajahnya yg tersenyum. Ya sudahlah ku jabat saja tangan itu, tapi tetap aku tak menyuruhnya mampir!
"sudah!sekarang pulanglah"
"kita kan sudah berteman kenapa masih mengusirku?"
"mamaku bilang tidak boleh ada tamu laki laki dirumah!".
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 10
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 10 ~ Wajahnya masih jengkel saja, tangannya dilipat didepan dada dan matanya naik turun, kiri kanan. Waa.. Bibirnya manyun lagi.
"ayo!" ajakku.
"kemana?"
"kita makan es krimnya sebelum meleleh"
"mau makan dimana?"
"menurutmu dimana?"
"diatap saja!"
"nanti es krimnya meleleh!"
"nona..pakailah ini, ini kantung pendingin, es krimmu tak akan meleleh" paman memberikan sebuah kantung berbentuk shopping bag berukuran kecil padaku.
"berapa paman?"
"tidak usah, anggaplah hadiah dariku"
"hadiah macam apa itu?" cibir Tan. Aku langsung menendang kakinya. Ia meringis.
"maafkan dia paman..dia memang begitu"
"tidak apa, ini terimalah..nanti es krimmu meleleh.."
aku menerima kantung pendingin pemberian paman baik ini lalu berterima kasih padanya(pasti aneh ya nyebutnya kantung, anggap nggak aneh aja ya:D)
Tan merebutnya dari tanganku. Lalu memasukkan es krim kedalamnya. Aku menatapnya sebal.
"kenapa menatapku begitu?"
"tidak!"
gantian kini dia yg menatapku jengkel. Tangannya terulur menyerahkan kantung berisi eskrim itu padaku. Aku menyambutnya. Tiba tiba Tan menarikku dan berlari masuk gerbang. Aku jadi kaget dan ku jamin lariku aneh sekarang.
Sampai diatap, Tan melepaskan tanganku dan duduk diatas bangku. Aku terengah engah mengikutinya.
"kenapa menarikku begitu?"
"kalau tidak cepat es krimnya bisa meleleh"
"heh!kita kan sudah pakai ini!" ketusku sambil memperlihatkan kantung es krim didepan wajahnya. Tan dengan cepat merebutnya dan langsung mengambil sebuah es krim serta cepat cepat membuka bungkusnya dan memakan es krim stick itu. Aku memandangnya prihatin. Dia seperti tengah kelaparan.
"jangan menatapku! Makan saja es krimmu!" katanya dg mata melirik satu es krim lagi didalam kantung. Akupun mengambil es krim itu dan memakannya. Lagi lagi pandanganku berhenti diwajah Tan. Ada apa denganku? Masa aku jatuh cinta padanya? Tan mengankat wajahnya, aku kaget saat pandangan kami bertemu. Buru buru kualihkan pandanganku kelangit.
"sudah sore, aku juga sudah mentraktirmu..aku pulang dulu!"
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 9
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 9 ~ Sudah 10 menit lebih aku duduk disini. Dianak tangga lantai dasar yang terhubung dg lantai 2. Tan belum juga muncul. Aku menunggunya disini demi mentraktirnya, padahal bel sudah berbunyi sejak 10 menit lalu tapi dia belum juga muncul. Aku tidak mau menghampiri kekelasnya. Apa kata orang nanti?
Ku dengar derap langkah menuruni tangga. Langkahnya pelan dan santai lalu pemilik langkah itu berdiri di depanku. Langsung saja ku dongakkan wajahku.
"lama sekali kau! Hampir saja aku tidak jadi mentraktirmu!" omelku kesal. PLETAK!!
"aw!"
"dasar bodoh! Datang saja kekelasku! Aku malah mencarimu dikelasmu! Menyebalkan!" ia bersungut. Bibirnya manyun. Waa.. So cute!
"ya sudah.. Ayo jalan!" ajakku sambil berdiri.
"tunggu! Mau traktir aku dimana?"
"ikutlah saja..yang pasti tidak jauh kok!" aku berjalan duluan dan Tan mengikutiku dari belakang. Aku tersenyum lega karena di depan gerbang masih ada tukang es krim yang mangkal. Segera kuhampiri penjual es krim itu.
"paman..aku beli dua ya..yang rasa coklat!" kataku padanya. Tan nampak terkejut lalu menarik lenganku.
"kau gila! Traktiran macam apa ini? Kupikir kau akan mentraktirku makan es krim di cafe, ternyata disini? Aduh! Memalukan sekali! Mau dibawa kemana wajah tampanku ini huh?!"
"ish!cerewet sekali sih kau ini?" aku segera menempelkan telapak tanganku dimulutnya supaya dia tidak asal mengoceh lagi. Tan menepis tanganku lalu meludah sambil mengusap bibirnya.
"kau tidak pernah cuci tangan ya!" sungutnya jengkel. Aku hanya nyengir tak jelas.
"paman! Kami ini anak SMU, kenapa menjual es krim disini? Memang ada yang beli? Lain kali jual saja di Tk! Aku yakin daganganmu laris manis semanis wajahku ini!" sekarang Tan malah menceramahi paman ini tak lupa menarsiskan dirinya lagi.
"kau salah!justru disini aku dapat banyak pelanggan! Ini es krimmu nona.." aku tersenyum menerima dua bungkus es krim yang disodorkan paman
"terimakasih paman" kataku sambil membayar dengan uang pas. Aku mendelik kearah Tan.
Bersambung,...
READ MORE - Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 9
Ku dengar derap langkah menuruni tangga. Langkahnya pelan dan santai lalu pemilik langkah itu berdiri di depanku. Langsung saja ku dongakkan wajahku.
"lama sekali kau! Hampir saja aku tidak jadi mentraktirmu!" omelku kesal. PLETAK!!
"aw!"
"dasar bodoh! Datang saja kekelasku! Aku malah mencarimu dikelasmu! Menyebalkan!" ia bersungut. Bibirnya manyun. Waa.. So cute!
"ya sudah.. Ayo jalan!" ajakku sambil berdiri.
"tunggu! Mau traktir aku dimana?"
"ikutlah saja..yang pasti tidak jauh kok!" aku berjalan duluan dan Tan mengikutiku dari belakang. Aku tersenyum lega karena di depan gerbang masih ada tukang es krim yang mangkal. Segera kuhampiri penjual es krim itu.
"paman..aku beli dua ya..yang rasa coklat!" kataku padanya. Tan nampak terkejut lalu menarik lenganku.
"kau gila! Traktiran macam apa ini? Kupikir kau akan mentraktirku makan es krim di cafe, ternyata disini? Aduh! Memalukan sekali! Mau dibawa kemana wajah tampanku ini huh?!"
"ish!cerewet sekali sih kau ini?" aku segera menempelkan telapak tanganku dimulutnya supaya dia tidak asal mengoceh lagi. Tan menepis tanganku lalu meludah sambil mengusap bibirnya.
"kau tidak pernah cuci tangan ya!" sungutnya jengkel. Aku hanya nyengir tak jelas.
"paman! Kami ini anak SMU, kenapa menjual es krim disini? Memang ada yang beli? Lain kali jual saja di Tk! Aku yakin daganganmu laris manis semanis wajahku ini!" sekarang Tan malah menceramahi paman ini tak lupa menarsiskan dirinya lagi.
"kau salah!justru disini aku dapat banyak pelanggan! Ini es krimmu nona.." aku tersenyum menerima dua bungkus es krim yang disodorkan paman
"terimakasih paman" kataku sambil membayar dengan uang pas. Aku mendelik kearah Tan.
Bersambung,...
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 8
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 8 ~ Hanya tangannya saja yg menahan tanganku.
"ada apa?" tanyaku sambil menatap tangan kami.
"tidak ada yg gratis didunia ini" ucapnya tetap tak mengalihkan pandangannya. Aku bingung mendengar ucapannya.
"maksudmu?"
"kau pikir aku sukarela membantumu?"
"jadi maksudmu aku harus bayar?"
"traktir aku baru ku terima ucapan trimakasihmu!"
"materialistik!" cibirku. Ia hanya nyengir.
"baiklah, ku traktir kau eskrim!" kataku ceria. Aku memang periang walaupun habis ditimpa kesulitan.
"apa? Eskrim?" ia nampak shock. Memang ada yg salah?
"kenapa?"
"kau mau mentraktirku eskrim? Kekanakan sekali! Sudah tua tapi kelakuan masih seperti balita! Traktir aku makan sapipanggang atau setidaknya ayam panggang!"
"aku..aku tidak punya banyak! Aku sedang ada masalah dg orang tuaku. Aku hanya bisa mentraktirmu eskrim" aku menunduk malu. Tak kudengar sahutan darinya jadi kuberanikan diri mengangkat wajahku. Aku sempat kaget saat kulihat ia sedang menatapku dan pandangan kami bertemu secara tidak sengaja. Tapi sedetik kemudian ia berdehem dan mengalihkan pandangannya. Ia mengambil headphone nya dan dipasangkan ditelinganya. Aku cemberut melihatnya.
"baiklah..traktir aku eskrim!" ujarnya sambil bangkit mengambil komiknya dan berjalan pergi. Aku tersenyum lega. Ternyata dia pengertian juga.
Bersambung,...
Bersambung,...
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 7
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 7 ~ Ia bersender disandaran bangku, rambutnya berantakan ditiup angin. Sebuah headphone terkalung dilehernya dan ditangannya ada sebuah komik yg terbuka. Kepalanya sesekali terangguk angguk dan kadang tertarik kebelakang. Ya ampun! Kenapa rasanya aku terpesona begini? Dia kelihatan lucu dan imut saat tidur, diam diam aku tersenyum kecil.
Aku terus memperhatikannya tanpa membangunkannya. Entah aku lupa tujuanku kemari. Hey.. Lihatlah bibir mungil nan seksi itu. Tidak buruk juga aku mendapatkan ciumannya. PLAK!! Aku menampar pelan wajahku sendiri. Apa yg kubicarakan? Aku pasti sudah gila!
Sepertinya suara tamparan pipiku membangunkan Tan. Ia mengerjap ngerjapkan matanya yg perlahan terbuka. Ia menatapku mungkin belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Aku hanya bisa pasang tampang datar.
"heh! A-apa yg kau lakukan disini? Se-sejak kapan kau disini?" kurasa dia sudah sadar sekarang, buktinya sudah bisa mengoceh.
"biasa saja! Tidak usah terkejut begitu, memangnya aku hantu?!"
"kau lebih dari sekedar hantu! Muncul tiba tiba begitu!"
"tiba tiba? Aku muncul disini butuh tahap! Harus naik tangga dan jalan dulu baru bisa muncul disini!" gerutuku jengkel. Ia terdiam lalu meletakkan komik yg sedari dipegangnya disebelahnya.
"mau apa kesini?" tanyanya datar. Ish! Sok cool sekali dia!
"menemuimu!" jawabku tak kalah datar.
"untuk apa?"
"berterima kasih"
"karna aku sudah menciummu?"
"apa?! Bukan itu! Kau yg bilang lupakan kejadian itu! Kenapa kau ungkit ungkit lagi sekarang huh?"
"um..baiklah..maaf! Jadi, trimakasih untuk apa?"
"kau sudah bantu buatkan tugasku tadi! Jadi, kuucapkan trimakasih banyak!" aku tersenyum seiklas mungkin. Semoga dia tidak salah sangka dan besar kepala.
"oh.." oh?hanya oh?hanya membulatkan mulut saja?
"ya sudah, aku pergi dulu" daripada jengkel disini lebih baik aku segera pamit pergi. Aku berbalik dan mulai angkat kaki. Tapi yg terjadi, dia malah menarik tanganku. Kepalaku menoleh kearahnya dan yg kulihat ia sama sekali tidak menatapku, pandangannya lurus kedepan.
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 6
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 6 ~ "kau iblis!" ucapku yang langsung menghentikan tawanya. Ia memandangku tajam membuatku bergidik ngeri. Wajahnya mendekati wajahku memaksaku memundurkan kepalaku. Kini wajah kami berdekatan. Hdungnya yang kuakui tergolong mancung hampir mengenai hidungku yg biasaa saja. Hembusan nafasnya juga terasa di wajahku. Ia memerengkan kepalanya kekiri dan kekanan.
"Apa iblis setampan ini?" katanya mlotot. Aku langsung menoyor kepalanya menjauh.
"Dasar perempuan! Pikirannya selalu saja negatif! Dasar korban drama Tv! Cepat kembali kekelas!!"
"Berikan dulu kartu pelajarmu!"
"Tidak bisa!"
"Cepat berikan!"
"Huh!! Dasar cerewet!!" ia meronggoh saku kemeja sekolahnya lalu mengeluarkan sebuah kertas segi empat yang sudah di press.
"Kau punya 10 detik untuk membacanya!!"
Aku mengambil kartu itu dan memperhatikannya dg seksama.
DANIEL TAN? nama belkngnya Tan? Dia dikelas 2 IPA 1. Jadi dia Yuniorku? Belum sempat aku membaca lagi, ia sudah menarik kartu itu dari tanganku.
"Sudah lewat 10 detik!"
"Wah!! jadi kau juniorku? sudah kuduga! kau asal asalan mengerjakan tugasku kan?"
"Bawa ke gurumu dan dengar apa katanya" Ia bangkit berdiri lalu berjalan menuruni tangga.
"TAAAN.....!!!" Panggilku. Kuihat ia sudah lenyap namun tiba tiba muncul lagi di tangga.
"Heh! Kenapa memanggilku begitu?"
"Memang kenapa?"
"Orang orang biasa memanggilku DAN"
"DAN itu kan kata sambung! aku lebih suka memanggilmu Tan! oya, Tan itu artinya apa?"
"Tan itu nama anugrah dari Ibuku... Yang artinya TAMPAAAANNN....!!!"
Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang bangga menyebutkan kalimat tadi.
"Sudahlah, sampai jumpa gadis cengeng!!"
"Heh! Aku lebih tua darimu, dasar tidak sopam kau!!"
"Lalu aku hars memanggilmu apa? Kakak? Maaf, aku kurang suka menyebutmu seprti itu! Bye...."
PLETAK!! ia menjitakku lagi lalu berlari menuruni tangga. Aku ingin mengejarnya dan balas menjitaknya tapi kuurungkn, percuma saja! larinya seperti kilat dan dia lebih tinggi dariku. Kutatap bukuku dan kuputuskan untuk membawanya ke Pak Sam. Awas saja kalau jawabannya salah, akan kuhantui si seTan itu.
"Wah jawabannmu benar semua! Bagus! jangan lupa mengerjakan tugas lain kali ya..." Aku tersenyum lega. Ternyata Tan benar benar hebat. Jika hanya mengerjakan soal soal ini aku juga bisa tapi kalau dalam waktu 3 menit mana bisa? aku akan berterima kasih pada adk kelasku itu. Kurasa aku juga akan melupakan insident kiss itu dan mengajaknya berteman. tapi... apa aku sudah gila ingin berteman dengan orang yg sudah membuatku kehilangan firt kiss ku? bisa bisa dia menganggap aku senang dicium olehnya. TIDAK BISA!! Baiklah..... hanya sekedar berterima kasih. setelah itu urusan kami selesai. Dan aku akan menganggp ciuman itu tidak pernah terjadi.
Aku menuruni tangga nebuju lantai dua dan langsung berbelok kekiri tepatnya menuju kelas 2 IPA 1. kulihat kelas itu sudah sepi hanya ada beberapa siswa disana. aku terus celingukan lewat jendela dan tak melihat wajah Tan. Akhirnya aku memunculkan kepalaku di pintu dan menanyakan pada siswa siswi yang ada dikelas ini.
"Permisi... apa kalian melihat Tan?"
"Tan??" mereka kelihatan saling pandang. oh iya, kata Tan dia dianggil DAN bukan TAN.
"maksudmu Daniel Tan?" seorang siswi menerka aku langsung mengiyakan
"Dia tidak pernah dikelas kalau jam istirahat, jam pelajaran saja dia sering terlambat bahkan tidak masuk sama sekali. Tidak ada yang tau dia dmana" Jelas seorang siswi lainnya. aku hanya manggut manggut lalu pamit dan berbalik badan. aku tak lekas beranjak dari sana melainkan berdiri sejenak untuk emikirkan dimana kira kira Tan beada. apa di atap? Bisa jadi! Kupacu langkahu menaiki tangga. Begiu meginjakkan kaki di lantai atap gedung sekolah, aku segra memandang kesekitar untuk mencarinya. Kulihat seseorang sedang duduk dibangku panjang dekat tembok dan membelakangiku. itu pasti Tan! aku menandai gaya dan warna rambutnya yang coklat kemerahan. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekatinya dan tepat berdiri di sebelah bangku yg didudukinya. aku tertegun Dia kelihatan sedang tertidur. Manis sekali.......
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 4
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 4 ~ Dengan segenap rasa takut, kuberanikan diri mengangkat tangan. Kalau tidak jujur sukarela, Pak Sam bisa murka.
"Karina Arista? Silahkan keluar dan kerjakan tugasmu!"
aku berjalan menunduk keluar kelas. Semua pasti mengejekku sekarang.
Aku naik keatap sekolah, disini sepi jadi aku bisa berkonsentrasi mengerjakan tugasku. Ku ambil posisi duduk dipinggir bersandar pada tembok pembatas setinggi pinggang. Ku buka bukuku dan mulai mengerjakannya. Aku mencoba mengingat rumus rumus yg berhubungan dg soal ini dan yg kuingat adalah ciuman itu! Kenapa itu?
Kupejamkan mataku untuk berkonsentrasi dan lagi lagi yg nampak adalah peristiwa menjijikkan itu.
"ARRGGHHTT...!!" aku menjerit dan merengek seperti balita lalu menangis tak karuan. Kulemparkan bukuku kesembarang arah dan menekuk lutut kemudian membenamkan wajahku diantara lengan yg bertumpu pada lutut. Aku menangis! Berat sekali sih hidupku?
" Dasar cengeng!" suara itu muncul bersamaan dg bunyi langkah sepatu yg kian mendekat dan rasanya berhenti didepanku. Kuangkat wajahku dan melihat seseorang berdiri dihadapanku. Aku memandangnya dari bawah dan perlahan keatas. Tepat diwajahnya yg tersenyum sinis kearahku.
"Heh mesum! Beraninya kau muncul dihadapanku!" bentakku sambil mengusap kasar pipiku.
"apa? Mesum? Jangan asal menuduh kau!" Pletak! Ia menjitak kepalaku. Aku meringis.
"apa lagi kalau bukan mesum? Kau sudah berani beraninya menciumku!"
"aku terpaksa!kau menangis terus dan itu membuatku gila! Dan.. Bukankah sudah kuperingatkan kau agar diam dalam hitungan ketiga?"
"tapi kau tidak perlu lakukan itu! Apa kau melakukan itu pada semua gadis yg menangis di hadapanmu?"
"enak saja! Itu pengalaman pertamaku tau! Sudah! Lupakan kejadian itu!"
"bagaimana bisa? Ciuman pertamaku itu untuk suamiku kelak! Beraninya kau curi!"
"ya ampun..kampungan sekali kau! Lupakan saja oke?"
"bagaimana bisa lupa?"
"jadi kau akan mengingatnya seumur hidup? Sudahlah.. Anggap saja itu tidak pernah terjadi!" aku menunduk, benar juga! Lupakan! Tapi..
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 5
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 5 ~ "kenapa bengong?"
"apa urusanmu aku bengong huh? Baiklah.. Akan ku coba lupakan setelah kau minta maaf!" ia terkekeh kemudian mengulurkan tangannya padaku.
"maafkan aku!" meski berat, ku terima juga uluran tangan itu.
"ku lihat kau melempar ini! Dasar ceroboh!" Pletak! Ia menjitakku lagi, kali ini dg buku matematikaku.
"heh sakit!" ringisku. Bagaimana tidak? Buku itu keras dan tebal.
"kau siapa sih?" tanyaku. Ku lihat ia tertawa kecil.
"mau mengajakku berkenalan?hahaha.." ia tertawa lepas. Apa yg lucu?
"kembalikan!" kataku menyodorkan tangan.
"apa?hatimu yg sudah kurebut? Haha.." ia tertawa lagi. Ya ampun.. Ada orang gila disini!
"sini biar kubantu!" ia berjongkok. Kemudian mengibas kibaskan bukuku diatas lantai. Menyapu debu?
"heh kurang ajar!"
"sst.." ia duduk bersila dihadapanku lalu membuka bukuku tepat dihalaman tugasku
"hmm.. Kau tidak bisa? IQ mu berapa?" tanyanya sambil menopang dagu mengamati soal dibukuku.
"bukan tidak bisa, tapi akibat perbuatanmu tadi pagi aku jadi tidak konsentrasi!"
"sudah ku bilang lupakan!"
"kalau kau bisa cepat kerjakan!" ia merebut balpoint ku lalu mengerjakan tugas itu. Aku melongo melihat gerakan tangannya yg sungguh cepat.
"selesai!"
"benarkah?"
"ini soal yg mudah! Hanya butuh 3 menit akan selesai!"
"aku tidak percaya! Kau pasti asal membuatnya kan?"
"ya sudah kalau tidak percaya!"
"lagipula kau sedang apa keluyuran disaat jam pelajaran?"
"aku malas! Semua pelajaran itu terlalu mudah bagiku!" aku mendelik penuh curiga terhadapnya. Jangan jangan dia makhluk lain!
"heh! Kenapa menatapku begitu?" tegurnya bergidik.
"berikan kartu pelajarmu!" pintaku menyodorkan tangan. Ia menopang dagunya lagi.
"untuk apa?"
"memastikan kau manusia apa bukan!"
"apa? Buhahaha.. Jadi kau mengira aku bukan manusia? Lalu aku apa? Malaikat?" ia tertawa girang. Wajah putih cerahnya memerah.
"kau iblis!" ucapku yg seketika menghentikan tawanya. Ia memandangku tajam membuatku bergidik ngeri. Wajahnya mendekati wajahku memaksaku memundurkan kepalaku. Kini wajah kami berdekatan.
Bersambung,...
Bersambung,...
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 3
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 3 ~ Aku berjalan menunduk sepanjang jalan menuju kelasku dilantai 3. Pikiranku jadi berkecamuk sekarang. Bahkan aku tidak terlalu memikirkan Mama lagi, malah memikirkan laki laki itu. Langkahku terhenti dianak tangga lantai 2. Ada sepasang kaki yang menghalangi jalanku. Aku tak tau siapa karena terlalu malas mengangkat wajahku. Ku geser kakiku kekiri dan sepasang kaki itu kekanan sehingga tetap menghalangiku. Ku geser lagi kekanan dan tetap terhalang. Aku mendecak kesal lalu mendongakkan wajahku. Seketika mimik wajahku berubah terkejut, orang dihadapanku juga sama.
"kau.." aku bergumam tapi terputus begitu cowok dihadapanku ini kabur. Refleks aku langsung mengejarnya tapi dia sudah hilang seperti kilat. Aku mendengus padahal aku ingin membunuhnya karena sudah berani mencuri ciuman pertamaku yang rencananya akan kuberikan pada suamiku kelak. Bukan pada orang gila yang tidak jelas asal usulnya itu. Ternyata dia sekolah disini? Kelas berapa dia? Ah masa bodoh! Bel berbunyi memaksaku menaiki ulang tangga ini karena cowok itu membuatku memgejarnya sampai kelantai dasar. Sial!
Akhirnya aku tiba dikelas. Suasana sudah seperti biasa, ribut dan gaduh. Aku berjalan duduk dibangkuku. Hanna, teman sebangkuku belum ada disini. Hanya tasnya yg tergeletak diatas meja. Pasti dia ditoilet. Dia memang setiap pagi ada disana bahkan bisa berpuluh menit hanya untuk dan-dan dan mengecek penampilan.
Tak lama, Hanna masuk dan langsung duduk disebelahku. Tak lama pula guru bidang studi matematika masuk. Ternyata bel sudah bunyi. Mungkin aku tidak dengar sewaktu masih ditoilet.
"ada tugas?" tanya Pak Sam.
"ada!" aku tergepak. Ada? Ada tugas? Astaga! Aku lupa!
"kumpulkan tugas kalian sekarang!" aku segera mengobrak abrik tasku. Kuambil buku latihan matematika dan ada 10 soal logaritma yang belum kuselesaikan. Aku menunduk kekolong meja saat Pak Sam mulai menghittng jumlah kami dan jumlah buku yg dikumpulkan.
"kurang satu buku! Ada yg tidak mengumpulkan?"
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 2
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 2 ~ ini cerpen lanjutan dari cerpen cinta sebelum nya yaitu Loving Kiss Part 1 langsung aja, cekidoot" Hatiku sakit!" rintihku disela tangis.
" Punggungku sakit! Diamlah! Izinkan aku pergi baru kau menangis lagi, oke?"
"HUAAAMPH.!" Mulutku dibekap.
" Jangan menangis lagi!" pintanya memelas.
"Awkh!" ia menjerit setelah kugigit telapak tangannya lalu kulanjutkan tangisku.
"ck!" kudengar ia mendecak lalu menarik tanganku. Mataku membulat besar, ia menyeretku entah kemana. Aku hanya pasrah tanpa mencoba melawan malah aku terus menangis.
" Hei! Apa kau punya selautan air mata! Kau tidak lelah menangis terus? Katakan! Apa aku menyakitimu? Kau yang menyakitiku! Kenapa kau yang menangis? Ku mohon diamlah!" ia mengocehiku. Ia sudah melepaskan tarikan tanganku. Sambil tetap menangis, aku memandangi sekitar. Dimana ini? Yang kulihat adalah sebuah danau dihadapanku dan dibelakangku ada jalan setapak yg pinggirannya ditumbuhi jejeran pohon zaitun.
" Kau ada masalah ya? Ah. Sial sekali aku harus terlibat! Berhentilah menangis!" pria didepanku mengoceh lagi. Aku tak peduli. Aku tidak ada urusan dg nya. Aku sedang menangisi nasibku sekarang.
" Baiklah.. Kau sudah menghabiskan kesabaranku! Aku tidak bisa pergi meninggalkanmu disini karena orang orang akan berpikir aku yang membuatmu menangis! Sekarang! Kuperingatkan kau! Diam? Atau aku akan memaksamu diam?" aku tak perduli dg ancamannya! Apa dia akan menceburkanku kedanau. Sayangnya aku mahir berenang.
"akan kuhitung sampai tiga! Satu.. Dua.. Ti.." chuu.. Seketika suara tangisku lenyap. Sesuatu yang lembut membungkam mulutku. PLAK!!
" Dasar mesum!! Beraninya kau!" aku berlari meninggalkan tempat ini. Air mataku terus mengalir tapi untuk hal lain. Apa yang dilakukan orang gila itu? Aku akan menghabisinya!
Aku tiba disekolah dan segera masuk kedalam toilet. Langsung saja aku membuka kran westafel lalu membasuh wajahku. Kupandangi bayanganku dicermin. Tepat disini! Dia menciumku disini! Laki laki mesum itu! Segera ku usap usap bibiku yang telah ternoda ini. Kurang ajar! Beraninya dia!
Bersambung,...
READ MORE - Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 2
" Punggungku sakit! Diamlah! Izinkan aku pergi baru kau menangis lagi, oke?"
"HUAAAMPH.!" Mulutku dibekap.
" Jangan menangis lagi!" pintanya memelas.
"Awkh!" ia menjerit setelah kugigit telapak tangannya lalu kulanjutkan tangisku.
"ck!" kudengar ia mendecak lalu menarik tanganku. Mataku membulat besar, ia menyeretku entah kemana. Aku hanya pasrah tanpa mencoba melawan malah aku terus menangis.
" Hei! Apa kau punya selautan air mata! Kau tidak lelah menangis terus? Katakan! Apa aku menyakitimu? Kau yang menyakitiku! Kenapa kau yang menangis? Ku mohon diamlah!" ia mengocehiku. Ia sudah melepaskan tarikan tanganku. Sambil tetap menangis, aku memandangi sekitar. Dimana ini? Yang kulihat adalah sebuah danau dihadapanku dan dibelakangku ada jalan setapak yg pinggirannya ditumbuhi jejeran pohon zaitun.
" Kau ada masalah ya? Ah. Sial sekali aku harus terlibat! Berhentilah menangis!" pria didepanku mengoceh lagi. Aku tak peduli. Aku tidak ada urusan dg nya. Aku sedang menangisi nasibku sekarang.
" Baiklah.. Kau sudah menghabiskan kesabaranku! Aku tidak bisa pergi meninggalkanmu disini karena orang orang akan berpikir aku yang membuatmu menangis! Sekarang! Kuperingatkan kau! Diam? Atau aku akan memaksamu diam?" aku tak perduli dg ancamannya! Apa dia akan menceburkanku kedanau. Sayangnya aku mahir berenang.
"akan kuhitung sampai tiga! Satu.. Dua.. Ti.." chuu.. Seketika suara tangisku lenyap. Sesuatu yang lembut membungkam mulutku. PLAK!!
" Dasar mesum!! Beraninya kau!" aku berlari meninggalkan tempat ini. Air mataku terus mengalir tapi untuk hal lain. Apa yang dilakukan orang gila itu? Aku akan menghabisinya!
Aku tiba disekolah dan segera masuk kedalam toilet. Langsung saja aku membuka kran westafel lalu membasuh wajahku. Kupandangi bayanganku dicermin. Tepat disini! Dia menciumku disini! Laki laki mesum itu! Segera ku usap usap bibiku yang telah ternoda ini. Kurang ajar! Beraninya dia!
Bersambung,...
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 1
Cerpen Cinta : Loving Kiss Part 1 ~ "Karin!! Kau benar benar ceroboh! Kau lihat apa yang sudah kau lakukan? Kau tau harga vas ini sangat mahal?! Huh! Cepat sana pergi sekolah! Kalau kau tetap ada disini, hanya akan membuat Mama tambah marah!" hatiku sakit mendengar omelan Mama barusan. Aku segera berlari keluar rumah. Tak kuhiraukan sapaan supir pribadiku yang setiap pagi selalu menyiapkan mobil untuk mengantarku kesekolah. Aku memilih terus berlari keluar gerbang dan berjalan cepat di trotoar. Aku benci! Rasanya aku hanya memecahkan vas bunga dengan tidak sengaja dan Mama mencaciku seperti itu. Betapa berharganyakah vas itu dibanding aku! Anaknya sendiri! Mama bahkan tak pernah peduli saat aku terluka. Kerjanya hanya bolak balik keluar negeri mengurus perusahaan warisan alm. Papa. Aku jarang diperhatikan. Mungkin ia lupa punya seorang anak. BRUK!! Kurasakan tubuhku menubruk seseorang. Aku menyurut mundur menyeimbangkan tubuhku. Tapi orang yg kutubruk itu jatuh telungkup didepanku. Sepertinya tadi dia berjalan didepanku. Aku terlalu larut dalam tangis sampai tak begitu memperhatikan jalan dan menubruk punggungnya yang dilapisi tas punggung hitam.
" Aduh.. Siapa sih yg menabrakku?" pria berseragam SMU itu merintih.
Aku berdiri ditempatku tanpa mencoba kabur atau setidaknya minta maaf. Pikiranku kacau sekarang. Ia masih dalam posisi telungkup lalu menolehkan kepalanya kebelakang. Ia menatapku jengkel.
"Kau.." aku langsung terduduk ditrotoar menghentikan ucapannya yang mungkin akan mencaciku seperti Mama tadi. Aku menangis keras tak peduli dg keadaan sekitarku. Dapat kulihat samar samar dibalik air mata yg mengenangi mataku, pria ini terbelalak kaget kemudian berjongkok menghadap kearahku.
"Hei.. Jangan begitu! Sst.. Orang orang memperhatikan kita! Diamlah.. Kau membuatku dicurigai seperti seorang terorist!" aku tak mengindahkan ucapannya bahkan menangis makin keras. Inilah yang aku inginkan! Menangis sekeras mungkin.
" Ya ampun.. Kau yang menabrakku kenapa jadi kau yang menangis?" pria ini celingukan mengecek situasi sekitar.
Bersambung,...
Bersambung,...
Cerpen Cinta : Memori Sebuah Catatan
Cerpen Cinta : Memori Sebuah Catatan ~ Ahaayy, ne ada lagi kiriman cerpen yang dijamin gak kalah seru dengan yang sebelum sebelumnya, kali ini masih dari penulis hebat kita yaitu Kak Fitria Haryani, langsung aja la yaa. neh cerpen nya sob, cekidooott........Aku duduk dikursi roda disamping ranjang dimana suamiku berbaring lemah tak sadarkan diri, usiaku tidaklah muda lagi, usiaku telah menginjak 70 tahun. Aku bukanlah Aii yang dulu,yang kuat,yang semangat. Aku Aii yang lemah yang duduk dikursi roda sejak 10 tahun yang lalu. Suamiku dafa kini terbaring sakit diranjang dan tak ingin menghabiskan sisa usianya dirumah sakit, usianya tidak jauh terpaut
Cerpen Cinta : Akhirnya Ku Menemukanmu
Cerpen Cinta : Akhirnya Ku Menemukanmu ~ Cerpen ini kiriman dari Kak Fitria Hariyani, Kali ini Cerpen yang bertema kan tentang cinta, ingin tau kisah cerpen nya? cekidooot dehh ^_^Namaku Tio, sekarang aku tengah melanjutkan studiku di Kedokteran Spesialis Syaraf. Umur baru 24 tahun, terbilang Muda untuk meraih gelar dokter. Aku tidaklah mahasiswa yang pandai, Namun tekat dan usahakulah yang membuatku mudah meraih gelar dokter tersebut. Tekat untuk segera mengakhiri Studiku dan tekat untuk membuatku sukses sehingga aku dapat melamar gadis yang selama 8 tahun aku cintai, gadis yang selama 5 tahun tak kunjung aku temui, gadis yang aku rindu. Dialah yang membuatku sukses meraih gelar dokter. Sekarang aku bekerja disalah satu Rumah sakit ternama dikotaku. Aku memiliki gaji yang lumayan besar. Semua telah aku punya. Hidupku bisa dikatakan mapan, namun dalam urusan wanita aku tidaklah pandai. Dulu sekita masih duduk dibangku SMA,aku pernah mencoba untuk berpacaran,,hanya sekedar iseng, namun tak bertahan lama, karena aku tak sanggup menjalani hubungan dengan wanita yang aku tak sukai. Banyak alasanku untuk tidak mendekati wanita yang aku sayangi, namun hanya satu alasan terkuatku, aku hanya ingin menjadikannya halal bagiku. Dan karena itu aku terus berusaha untuk menjadi orang sukses aggar aku bisa membawanya kepelabuhan terakhirku. Aku tau dia juga menaruh hati padaku, namun aku tak ingin menunjukan semuanya. Sampai pada akhirnya aku terlambat untuk menjadikannya permaisuri terakhirku, aku terlambat. Menyisakan luka yang amat mendalam bagiku. Luka yang tak kunjung sembuh sejak dua tahun yang lalu. Aku masih berharap menjadikannya pelabuhan terakhirku. Cintaku masih teramat besar padanya. ah, dia telah menjadi milik orang. Semua ini salahku. Begitu bodohnya aku yang merelakannya begitu saja...
Sekarang aku tak tau harus bagaimana, luka itu makin mengoyak hatiku.. membuatku haus akan cintannya. Ini memang salahku. Apa dayaku kini.
Aku mencintaii seseorang yang tak mungkin aku miliki. Cinta yang sejak 8 tahun aku simpan didalam hati. Cinta yang membuatku menjadi seseorang yang sukses. Namun Tuhan tidak menjodohkan kami. Luka itu membawaku kemasa lalu, masa yang begitu indah bagiku. Masa saat aku mengenal cinta pertamaku
Cerpen Cinta : Jadikan Aku Permaisuri Terakhir Mu
Jadikan Aku Permaisuri Terakhir Mu ~ Hmm,, Kali ini saya dikirimkan cerpen oleh salah seorang sahabat baru saya, yaitu Kak Fitria Hariyani dia juga seorang penulis cerpen yang handal dan juga sering mengikuti kompetisi di bidang cerpen. gak sabar pengen lihat cerpen nya? cekidoot dehh ^_^

Angin semilir berhembus, rerumputan dengan indah bergoyang tanpa ada penghalang,suara kicauan burung menambah semaraknya pagi, semakin menambah indahnya pagi. Padi mulai menguning,sekekali terdengar suara embun jatuh dari dahannya. Udara pagi nan segar dan dingin menambah indahnya desaku, desa yang jauh dari kota, yang jauh dari kericuhan, jauh dari segala semaraknya kota. Inilah desaku, penuh dengan alam yang masih sangat almi. Desaku tempat dimana aku lahir, tempat dimana aku menimba ilmu, tempat dimana aku merasakan cinta pertama kali. Tempat dimana aku mulai mencintaii seseorang. Aku sungguh mencintai desaku. Namun aku tag akan mengenang kembalii bagaimana aku bisa hidup didesaku ini, bagaimana aku tumbuh didesaku, bagaimana kehidupanku, namun aku akan mengenang sebuah cerita, yang lumrah dirasakan oleh semua insan didunia ini, yang setiap harii menjadi perbincangan, yang setiap harii menjadi santapan. Ah Cinta, siapa pula yang tak tahu cinta,, bahkan anak yang masih duduk dibangku TK sudah amat mengerti tentang cinta. Cinta, memang sudah lumrah, namun aku akan mengenangnya kembali, bukanlah hal yang dilarang bukan...?
Aku Tia.. aku baru saja menyelesaikan studiku ditinggkat SMA, dah sekarang aku akan memasuki PTS yang jauh dari tempat kelahiranku. Ini adalah kisahku, namun kisah yang terindah bagiku. Kisah yang tak pernah aku banyakan sebelumnya.

Angin semilir berhembus, rerumputan dengan indah bergoyang tanpa ada penghalang,suara kicauan burung menambah semaraknya pagi, semakin menambah indahnya pagi. Padi mulai menguning,sekekali terdengar suara embun jatuh dari dahannya. Udara pagi nan segar dan dingin menambah indahnya desaku, desa yang jauh dari kota, yang jauh dari kericuhan, jauh dari segala semaraknya kota. Inilah desaku, penuh dengan alam yang masih sangat almi. Desaku tempat dimana aku lahir, tempat dimana aku menimba ilmu, tempat dimana aku merasakan cinta pertama kali. Tempat dimana aku mulai mencintaii seseorang. Aku sungguh mencintai desaku. Namun aku tag akan mengenang kembalii bagaimana aku bisa hidup didesaku ini, bagaimana aku tumbuh didesaku, bagaimana kehidupanku, namun aku akan mengenang sebuah cerita, yang lumrah dirasakan oleh semua insan didunia ini, yang setiap harii menjadi perbincangan, yang setiap harii menjadi santapan. Ah Cinta, siapa pula yang tak tahu cinta,, bahkan anak yang masih duduk dibangku TK sudah amat mengerti tentang cinta. Cinta, memang sudah lumrah, namun aku akan mengenangnya kembali, bukanlah hal yang dilarang bukan...?
Aku Tia.. aku baru saja menyelesaikan studiku ditinggkat SMA, dah sekarang aku akan memasuki PTS yang jauh dari tempat kelahiranku. Ini adalah kisahku, namun kisah yang terindah bagiku. Kisah yang tak pernah aku banyakan sebelumnya.
Puisi Cinta : Jatuh Dalam Cinta
Puisi Cinta : Jatuh Dalam Cinta - Kali ini saya akan berbagi tentang pusi Jatuh Dalam Cinta, yang amat saya rasakan kali ini setelah mencoba mersakan betapa indah dan nikmatnya mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang yang amat kita sayangi. Langsung aja ya baca Puisi saya berikut ini, cekidott.
Langganan:
Komentar (Atom)












